Berita Bidang Ketenagakerjaan

TKI di Taiwan Belajar Bertani Organik

TAIPEI – Satu lagi kegiatan inspiratif yang digagas Kantor Dagang dan Ekonomi (KDEI) di Taipei bagi para TKI di Negeri Formosa, Taiwan. Puluhan TKI dari berbagai wilayah di Taiwan, belajar bagaimana bercocok-tanam secara organik. Tak hanya dipandu cara pembibitan tanaman, para TKI juga terjun langsung bercocok-tanam di Beitou, Taipei, Minggu (29/5).

Sedikitnya 30 TKI sejak pagi hari telah berkumpul di areal perkebunan milik Mr. Chan. Mereka serius menyimak penjelasan dari petani yang merupakan anggota asosiasi petani organik Taipei. Diakui para peserta, secara umum mereka telah mengetahui seluk-beluk pertanian. Namun, teknologi dan modifikasi pertanian secara organik masih cukup awam bagi mereka.

Untuk diketahui, mengkonsumsi makanan organik telah menjadi salah satu kebiasaan warga Taiwan. Pertanian di Taiwan pun bisa dibilang, rata-rata tidak menggunakan pupuk kimia karena berbahaya bagi kesehatan. 

Salah satu peserta pelatihan, Rubiyati, menuturkan, dengan belajar bertani secara organik, dirinya bisa mengambil banyak manfaat. Selain memperoleh ilmu pertanian, dirinya juga bisa belajar bertani dengan lahan yang sempit.

Di kampung, saya selama ini bercocok-tanam pertanian secara umum, bukan teknik organik seperti yang kita pelajari hari ini,” ujar wanita berjilbab asal Pati, Jawa Tengah ini.

Peserta lainnya, Sarmi, mengatakan, ilmu pertanian organik bisa diaplikasikan sepulangnya ke Indonesia. “Saya pernah bercocok-tanam bawang merah. Mudah-mudahan pelajaran bertani organik ini bisa saya terapkan di Indonesia,” tutur TKI asal Demak ini.

Mr. Chan menjelaskan, pertanian secara organik dimulai dari tahap pemilihan bibit, penyemaian, menanam bibit, perawatan, hingga masa panen. “Secara umum, bertani organik, masa panen akan lebih lama dari cocok-tanam pada umumnya. Tapi, kelebihannya, hasil panen lebih sehat dan berkualitas,” terangnya didampingi sang istri.

Salah satu sesi paling menarik dalam pelatihan ini adalah TKI diajak berkeliling ke areal perkebunan jagung dan timun. Mengingat pertanian organik sama sekali tidak menggunakan pupuk pestisida, para peserta dapat langsung memetik sayuran organik tersebut dan mengkonsumsinya di tempat. “Rasanya lebih enak,” cetus Nurkholiq, TKI asal Kendal, mencoba membandingkan kualitas sayur organik yang dicicipinya.

Kepala Bidang Ketenagakerjaan KDEI di Taipei Devriel Sogia Raflis yang didampingi Senior Asisten Ketenagakerjaan Noerman Adhiguna mengajak TKI untuk bijaksana memanfaatkan waktu selama bekerja sebagai TKI. “Dengan mengikuti pelatihan ini, sepulangnya ke Indonesia, saudara-saudara bisa menerapkan ilmunya di kampung halaman masing-masing,” imbaunya.

Dijelaskan, pelatihan pertanian organik menjadi bagian dari exit program KDEI di Taipei. Pihaknya secara intensif menggelar kegiatan pemberdayaan dan pembekalan bagi TKI demi terciptanya TKI purna yang mandiri sekembalinya ke Tanah Air. (*)

 

Share this Post:

Berita Terkait: