Menu

Mempromosikan Kopi Indonesia Melalui Ngopi Yuk!

Ngopi Yuk! Merupakan 3 in 1 event yang mengkombinasikan business forum, business matching dan exhibition. Hadir dalam event ini beberapa eksportir kopi Indonesia dan distributor kopi Indonesia di Taiwan.
Dari hasil penyelenggaraan Ngopi Yuk! Dari tanggal 20 – 21 Maret 2019, visitor yang hadir ke acara tersebut merupakan stakholder yang sangat memahami kualitas dan keunggulan kopi, diantaranya adalah importir dan pemilik coffee shop. General Manager dari Louisa Coffee (coffee shop chain terbesar di Taiwan setelah Starbuck), owner dari Cafe Bambi, Coffee Tree, Cojaft dan Ice Coffee Shop hadir dan mencoba beberapa kopi yang dipamerkan.
Beberapa visitor, diantaranya Louisa Coffee, Ice Coffee Shop, Cojaft tertarik untuk mengimpor coffee green bean dari exhibitor dan supplier yang diperkenalkan oleh Bidang Perdagangan.

 

Read more...

Organisasi PMI di Taiwan: Meminta KDEI untuk Mencegah Perkelahian

Taipei, KDEI (03/03/2019) – Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei kembali menggelar acara Silaturahim dan Dialog yang dilaksanakan pada hari Minggu, 03 Maret 2019. Acara sukses menghadirkan ketua serta perwakilan seluruh organisasi dan komunitas Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Taiwan. Forum rutin ini mengusung tema “Mencari Solusi Bersama Permasalahan Masyarakat Indonesia di Taiwan khususnya PMI”, berlangsung interaktif di ruang Aula Lt. 6 KDEI Taipei.

Dalam sambutannya di depan ratusan organisasi PMI, Kepala KDEI Taipei Didi Sumedi mengatakan, bahwa kehadiran organisasi hendaknya dapat dipahami sebagai wadah untuk mencapai tujuan bersama yang bermanfaat bagi anggotanya. Organisasi lahir dengan berbagai latar yakni berdasarkan keagamaan, komunitas, hobi dan lain sebagainya yang saat ini diperkirakan kurang lebih 100 organisasi di Taiwan. Kinerja organisasi dalam solidaritas turut diapresiasi antara lain dalam membantu korban bencana alam. Namun, masih ada beberapa permasalahan yang perlu menjadi perhatian bersama yakni perkelahian, peredaran narkoba maupun pembunuhan.

Lebih lanjut, Kepala KDEI Taipei memaparkan tugas pokok dan fungsi KDEI Taipei serta informasi ketenagakerjaan yakni tentang prospek penempatan PMI ke Taiwan, bahwa Taiwan masih menjadi tujuan penempatan terbesar kedua setelah Malaysia saat ini, pada tahun mendatang kebutuhan Taiwan terhadap PMI tetap terbuka, PMI lebih diminati dibandingkan dengan pekerja migran asing dari negara lainnya. Apalagi diperkirakan pada tahun 2030, Taiwan kekurangan sumber daya manusia. Namun, pada titik tertentu, jika permasalahan PMI tidak disikapi akan menurunkan kepercayaan Taiwan terhadap citra PMI. Tidak menutup kemungkinan suatu saat ada pembatasan kuota maupun moratorium.

“Setiap organisasi masih ada friksi, marilah kita kembali ke persatuan, tunjukan bahwa kita di sini meresapi nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika, jadikanlah organisasi sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan bersama, mencari solusi bersama, serta harapannya melalui pertemuan ini kita bisa menetapkan komitmen bersama”, tegas Didi.

Untuk mengatasi berbagai permasalahan PMI di Taiwan KDEI Taipei telah melakukan berbagai cara dan pendekatan antara lain melaksanakan kegiatan pembinaan dan sosialisasi pada beberapa kantong PMI, bahkan pelatihan keterampilan (exit program). Namun permasalahan perkelahian/penganiayaan sesama PMI masih kerap terjadi di beberapa kantong PMI antara lain di Taichung, Taoyuan dan Tainan. Hal ini kerap menimbulkan keresahan baik dari masyarakat Taiwan maupun kalangan PMI.

Dialog interaktif dipandu langsung oleh Wakil Kepala KDEI Taipei Teddy Surachmat. Mengawali sambutannya beliau menyampaikan tujuan pertemuan yakni diharapkan : (1) terwujudnya kerukunan, persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia di Taiwan, (2) menciptakan wadah masyarakat Indonesia di wilayah Taiwan yang dibina KDEI Taipei, serta (3) memunculkan sinergi KDEI Taipei dan masyarakat Indonesia di Taiwan untuk mengatasi permasalahan yang timbul.

Beberapa hal yang menjadi pertanyaan dari PMI antara lain adalah seputar permasalahan ketenagakerjaan antara lain masih adanya overcharging (pembebanan biaya di luar ketentuan), biaya perpanjangan perjanjian kerja, sanksi terhadap pelaku penganiayaan, penipuan bekerja di Taiwan dengan Visa Turis,dan lain sebagainya.

Adapun saran dan masukan PMI antara lain perlunya forum pertemuan rutin setiap tiga bulanan dengan menghadirkan seluruh organisasi di Taiwan, perlunya inovasi dalam pelayanan informasi dan pengaduan kepada PMI antara lain pembuatan chanel/streaming live video, serta mendekatkan pelayanan pada tempat konsentrasi PMI berlibur antara lain di Taipei Main Station (TMS), perlunya kehadiran BPJS Ketenagakerjaan di Taiwan, perlunya sistem online yang memfasilitasi ketersediaan job (lowongan kerja) yang dapat dimanfaatkan oleh PMI yang membutuhkan informasi lowongan kerja khususnya yang perpanjang kontrak pindah majikan, pemulangan terhadap pihak yang berkelahi, koordinasi dengan pihak Taiwan terkait penyalahgunaan narkoba jika perlu dilakukan test urine dadakan pada tempat kerja.

Menanggapi isu utama terkait perkelahian Taichung (17 Februari 2019 lalu), Wakil Kepala menjelaskan bahwa KDEI Taipei telah berupaya untuk berkoordinasi langsung dengan kepolisian Taiwan, tentunya membutuhkan waktu untuk mengungkap para pelaku.

Disampaikan juga tentang skema penempatan langsung (direct hiring) yang akan diterapkan ke depan. Saat ini KDEI Taipei telah melakukan pembicaraan dengan pihak Ministry of Labor Taiwan. Diharapkan skema baru ini sebagai alternatif penempatan PMI ke Taiwan yang bebas dari biaya (zero cost).

Seluruh pertanyaan lainnya dijelaskan langsung oleh Wakil Kepala KDEI Taipei. Terkait isu teknis maupun saran dan masukan selanjutnya akan ditindaklanjuti oleh bidang terkait antara lain Bidang Ketenagakerjaan, Bidang Perlindungan WNI dan Penerangan Sosial Budaya serta Bidang Imigrasi.

“Mari kita kembali bersahabat, bentuk organisasi di masing-masing wilayah sebagai wadah pemersatu”, tegasnya dalam memotivasi para peserta.

Pada sesi dialog ini sangat menarik, para PMI peserta tampak antusias dan di luar dugaan peserta membludak. Seorang peserta menganalogikan bahwa perkelahian yang kerap terjadi merupakan “kejahiliaan”, seharusnya ditinggalkan, dan masing-masing individu hendaknya mengemban tanggung jawab masing-masing.

“Saya harapkan tidak ada lagi kejadian (perkelahian) seperti itu”, ujar PMI lainnya dengan penuh semangat.

Di akhir acara para peserta silaturahim dan dialog bersepakat untuk menyepakati 9 (sembilan) point komitmen bersama yang dibacakan oleh seorang peserta dan disaksikan bersama.

Adapun komitmen bersama yang disepakati bersama tersebut adalah :
1. Menaati dan menghormati hukum, peraturan dan kebiasaan yang berlaku di Taiwan,
2. Menjaga keamanan dan ketertiban dengan tidak melakukan perbuatan anarkis guna terciptanya situasi yang aman dan kondusif di wilayah kerja masing-masing,
3. Bertanggungjawab terhadap anggotanya dengan melakukan pembinaan terhadap anggota organisasi/komunitas masing-masing,
4. Membentengi keyakinan diri dengan selalu waspada terhadap provokasi, hasutan dan pola rekruitmen kelompok tertentu untuk menyerang organisasi/komunitas lain,
5. Menghindari perkelahian dengan sesama masyarakat Indonesia di Taiwan khususnya PMI maupun dengan warga Taiwan,
6. Menghindari penyalahgunaan narkoba, minuman keras dan pergaulan bebas,
7. Menyeleksi akses dan komunikasi melalui media sosial serta tidak menyebarkan ujaran kebencian, hoax (berita bohong) yang menimbulkan fitnah serta memicu pergesekan dengan organisasi/komunitas lain,
8. Melaporkan kejadian yang terindikasi perkelahian/penganiayaan, penyalahgunaan narkoba dan minuman keras serta tindakan kriminal lainnya kepada aparat keamanan setempat, maupun KDEI Taipei,
9. Membentuk suatu organisasi masyarakat Indonesia di masing-masing wilayah Taiwan,

Peserta juga sepakat meminta KDEI Taipei untuk memberikan pembinaan dan atau memulangkan pihak-pihak yang terbukti terlibat dalam perkelahian, penganiayaan, penyalahgunaan narkoba/minuman keras, penyebaran paham radikal dan bentuk tindak pidana lainnya.

 

Read more...

KDEI Taipei Hadiri Taiwan Bersholawat Bersama Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf

Taichung, (24/02/19) -- Kepala KDEI Taipei, Didi Sumedi menghadiri acara Tabligh Akbar di Taman Taichung.
Ribuan jamaah umumnya PMI memadati Taman Taichung, lokasi sangat strategis di pusat kota Taichung. Kegiatan Tabligh Akbar seperti ini sangat dinanti-nanti oleh PMI Taiwan dalam memanfaatkan hari libur dengan kegiatan positif serta kegiatan yang baik dalam membina serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap Allah SWT.
Dalam sambutannya, Kepala KDEI Taipei menyampaikan pesan-pesan penting khususnya bagi PMI antara lain (1) KDEI Taipei selalu hadir dalam setiap agenda khususnya agenda keagamaan untuk memberikan support; (2) Mematuhi peraturan setempat di Taiwan agar hidup nyaman, menghindari perkelahian, dan menjauhi narkoba. Diharapkan dapat saling mengingatkan dengan baik bahwa tujuan merantau ke Taiwan untuk kebahagiaan ke depan, (3) Menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan umum 14 April 2019 mendatang sebagai wujud tanggung jawab Warga Negara Indonesia.
Dilanjutkan dengan tausiah dari Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf. Beliau menyampaikan tausiah mengajak untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dan dan sholawat bersama ribuan PMI yang diikuti dengan penuh hikmat. Diujung tausiah beliau turut mendoakan PMI yang bekerja di Taiwan agar kehadiran PMI di Taiwan dapat bermanfaat, diberikan rezeki yang mengantarkan PMI menuju kesuksesan, diangkat derajatnya, serta motivasi penting lainnya.
Suhu tempat acara sekitar 17 ºC disertai hujan rintik tidak menyurutkan langkah dan semangat para PMI untuk menghadiri tabligh akbar tersebut. Acara berlangsung dengan hikmat, lancar dan tertib menjelang sore hari.

Read more...

Kepala KDEI Taipei Titip Tiga Pesan dalam Tabligh Akbar Bersama Buya Yahya

Taipei, (17/02/19) – KDEI Taipei, Bapak Didi Sumedi hadir dalam dalam Tabligh Akbar yang diselenggarakan oleh salah satu organisasi PMI, SDA (Sobat Dunia Akhirat). Tema yang diusung adalah :
“Merajut Kebersamaan dalam Menggapai Bahagia dengan Al Quran”, sukses menghadirkan KH. Buya Yahya (Pengurus Lembaga Pengembangan Dakwah (LPD) Al-Bahjah Cirebon).
“Kami selalu mendukung acara yang diadakan untuk kebersamaan kita khususnya terkait dengan pengembangan kepribadian kita dari sisi agama”, ujarnya.
Kepala KDEI Taipei dalam sambutannya menitip tiga pesan kepada seluruh hadirin yaitu :

  1. mematuhi peraturan setempat agar nyaman di hidup di Taiwan,
  2. bagi PMI overstay/kaburan diharapkan dapat memanfaatkan program Amnesti dari National Immigration Agency (NIA) yang akan berakhir pada akhir Juni 2019,
  3. menggunakan hak pilih dalam Pemilihan Umum nanti sebagai bentuk tanggung jawab PMI di Taiwan sesuai dengan hati nurani, serta agar jangan sampai golput.

Dalam ceramahnya KH. Buya Yahya mengingatkan beberapa hal kepada jamaah antara lain agar selalu mengingat Allah SWT, waktu kosong hendaknya digunakan untuk berdzikir kepada Allah SWT, jangan mengandalkan usaha dhohir saja, lakukan usaha bathin dengan senantiasa meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT. Beliau juga menyampaikan pentingnya amalan untuk selalu menjaga sholat lima waktu, menjadikan sholat tahajud sebagai suatu kebiasaan, serta pesan-pesan keagamaan penting lainnnya. Acara pengajian dan pencerahan keagamaan ini berlangsung dengan hikmat dan sukses yang dilaksanakan di Taipei Main Station South 2 Gate yang dihadiri oleh ribuan orang yang umumnya berasal dari PMI sudah mulai memadati tempat kegiatan sekitar pukul 09.00 pagi. Acara berlangsung tertib dan damai sampai menjelang sore.

Read more...

Indonesia dan Taiwan berkolaborasi mengekspor produk elektronik ke Amerika Serikat

PT Sat Nusapersada yang berlokasi di Batam bersama dengan Pegatron Corp., sebuah perusahaan elektronik yang berkantor pusat di Taiwan telah melakukan ekspor perdana produk broadband dan smart home router ke Amerika Serikat pada tanggal 2 Februari 2019.

Pengiriman perdana tersebut diresmikan oleh Wakil Presiden M. Jusuf Kalla didampingi Menperin Airlangga Hartarto serta Gubernur Kepri Nurdin Basirun, yang juga turut disaksikan Direktur Utama PT Sat Nusapersada Abidin, Vice Chairman Pegatron Corporation Jason Cheng, Kepala KDEI Taipei Didi Sumedi, dan Kepala TETO Jakarta, John C. Chen.

Kolaborasi kedua perusahaan tersebut melahirkan potensi total nilai ekspor sebesar USD 600 juta per tahun serta dapat membuka lapangan kerja baru hingga 2.000 orang.

“Industri komponen elektronik memang merupakan industri andalan Taiwan, yang berkontribusi sebesar 28,03% terhadap total industrial production value Taiwan, jadi memang sudah sepantasnya Indonesia menangkap peluang kerjasama dengan perusahaan tersebut”, kata Kepala KDEI Taipei di sela-sela acara peresmian pengiriman perdana tersebut.

Lebih jauh, industri komponen elektronik berdasarkan data terkini National Statistics Republic of China (Taiwan) menyumbang 37,3% GDP industri manufaktur Taiwan, disusul oleh industri komputer, elektronik, dan produk optik sebesar 10,2%, serta industri bahan kimia sebesar 7,4%.

“Jadi selain dengan Pegatron, kami akan upayakan juga untuk membantu perusahaan elektronik dalam negeri agar dapat bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan elektronik lainnya di Taiwan. Ini baru dari satu sektor saja, belum lagi sektor lainnya seperti bahan kimia, logam, permesinan, dan lain-lain”, lanjutnya.

Pegatron sendiri merupakan pecahan dari ASUS yang berdiri pada tahun 2007 yang saat ini telah memiliki 9 pabrik di Asia, Eropa, dan Amerika dengan produk utamanya berupa computing devices, consumer electronics dan communication devices. Hanya dalam waktu 10 tahun saja, tepatnya pada tahun 2018, Fortune Global 500 menempatkan Pegatron di peringkat ke-285 dunia berdasarkan nilai revenue yang dicapainya, yakni sebesar US$ 39,24 miliar. Di tahun yang sama, Pegatron juga masuk ke dalam daftar The Top 100 Global Technology Leaders versi Thomson Reuters bersama 11 perusahaan Taiwan lainnya.

Pada kesempatan yang sama, Dirut PT Sat Nusapersada menyampaikan, pihaknya bertekad untuk terus menjadi salah satu manufaktur smartphone terbesar di Indonesia. Hingga saat ini, pihaknya telah memproduksi berbagai merek smartphone ternama di dunia seperti Asus, Xiaomi, Huawei, Honor dan Nokia yang dipasarkan di Indonesia serta sisanya diekspor ke India, Jerman dan Perancis.

“Dan, ke depan, kami akan mendorong kerja sama investasi pada komponen industri elektronika dan telematika, seperti semi konduktor sebagai salah satu komponen utama, yang diharapkan sektor ini dapat semakin meningkatkan nilai tambah di dalam negeri,” imbuh Menperin Airlangga Hartarto menutup sesi tanya jawab dengan pers.

Read more...

Indonesia dan Taiwan berkolaborasi mengekspor produk elektronik ke Amerika Serikat

PT Sat Nusapersada yang berlokasi di Batam bersama dengan Pegatron Corp., sebuah perusahaan elektronik yang berkantor pusat di Taiwan telah melakukan ekspor perdana produk broadband dan smart home router ke Amerika Serikat pada tanggal 2 Februari 2019.

Pengiriman perdana tersebut diresmikan oleh Wakil Presiden M. Jusuf Kalla didampingi Menperin Airlangga Hartarto serta Gubernur Kepri Nurdin Basirun, yang juga turut disaksikan Direktur Utama PT Sat Nusapersada Abidin, Vice Chairman Pegatron Corporation Jason Cheng, Kepala KDEI Taipei Didi Sumedi, dan Kepala TETO Jakarta, John C. Chen.

Kolaborasi kedua perusahaan tersebut melahirkan potensi total nilai ekspor sebesar USD 600 juta per tahun serta dapat membuka lapangan kerja baru hingga 2.000 orang.

“Industri komponen elektronik memang merupakan industri andalan Taiwan, yang berkontribusi sebesar 28,03% terhadap total industrial production value Taiwan, jadi memang sudah sepantasnya Indonesia menangkap peluang kerjasama dengan perusahaan tersebut”, kata Kepala KDEI Taipei di sela-sela acara peresmian pengiriman perdana tersebut.

Lebih jauh, industri komponen elektronik berdasarkan data terkini National Statistics Republic of China (Taiwan) menyumbang 37,3% GDP industri manufaktur Taiwan, disusul oleh industri komputer, elektronik, dan produk optik sebesar 10,2%, serta industri bahan kimia sebesar 7,4%.

“Jadi selain dengan Pegatron, kami akan upayakan juga untuk membantu perusahaan elektronik dalam negeri agar dapat bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan elektronik lainnya di Taiwan. Ini baru dari satu sektor saja, belum lagi sektor lainnya seperti bahan kimia, logam, permesinan, dan lain-lain”, lanjutnya.

Pegatron sendiri merupakan pecahan dari ASUS yang berdiri pada tahun 2007 yang saat ini telah memiliki 9 pabrik di Asia, Eropa, dan Amerika dengan produk utamanya berupa computing devices, consumer electronics dan communication devices. Hanya dalam waktu 10 tahun saja, tepatnya pada tahun 2018, Fortune Global 500 menempatkan Pegatron di peringkat ke-285 dunia berdasarkan nilai revenue yang dicapainya, yakni sebesar US$ 39,24 miliar. Di tahun yang sama, Pegatron juga masuk ke dalam daftar The Top 100 Global Technology Leaders versi Thomson Reuters bersama 11 perusahaan Taiwan lainnya.

Pada kesempatan yang sama, Dirut PT Sat Nusapersada menyampaikan, pihaknya bertekad untuk terus menjadi salah satu manufaktur smartphone terbesar di Indonesia. Hingga saat ini, pihaknya telah memproduksi berbagai merek smartphone ternama di dunia seperti Asus, Xiaomi, Huawei, Honor dan Nokia yang dipasarkan di Indonesia serta sisanya diekspor ke India, Jerman dan Perancis.

“Dan, ke depan, kami akan mendorong kerja sama investasi pada komponen industri elektronika dan telematika, seperti semi konduktor sebagai salah satu komponen utama, yang diharapkan sektor ini dapat semakin meningkatkan nilai tambah di dalam negeri,” imbuh Menperin Airlangga Hartarto menutup sesi tanya jawab dengan pers.

Read more...
Subscribe to this RSS feed

Kontak Kami

6F, No. 550, Rui Guang Road, Neihu District, Taipei, 114, Taiwan, ROC
Phone : (02) 87526170
Fax : (02) 87523706

Email: ieto[at]ms8.hinet.net

TAUTAN LAIN

Our website is protected by DMC Firewall!