UPAYA INDUSTRI KARET NASIONAL DALAM
MENGHADAPI PERSAINGAN PASAR KARET REMAH DI DUNIA INTERNASIONAL

Shortcut

  1. Pendahuluan
  2. Gambaran Umum Industri Karet Alam
  3. Hasil Pengamatan Karakteristik Bahan Baku Crumb Rubber
  4. Hasil Pengamatan Masalah Kontaminasi Pada Bahan Olah Karet
  5. Teknik Deteksi Dini Kontaminasi
  6. Penutup
  7. Pendahuluan

    1. Pendahuluan

      Indonesia merupakan negara produsen karet alam kedua terbesar di dunia setelah Thailand. Pada tahun 2006, produksi karet alam mencapai 2,64 juta ton, lebih dari 90% nya (2,45 juta ton) adalah jenis Crumb Rubber yang dihasilkan oleh sekitar 115 pabrik Crumb Rubber di seluruh Indonesia. Industri Crumb Rubber (karet remah) memiliki arti yang sangat penting bagi perolehan devisa sekaligus penyerapan tenaga kerja. Sebagai gambaran pada tahun 2006, industri crumb rubber berhasil meraup devisa ekspor senilai US$ 3,77 Milyar, hampir 50% dari nilai ekspor produk pertanian. Tenaga kerja yang terserap di bidang produksi crumb rubber mencapai + 100.000, sedangkan dibidang penyediaan bahan baku (petani karet) lebih dari 6 juta orang, belum termasuk para pedagang pengumpul. Luas areal tanaman karet di Indonesia pada saat ini 3,309 juta ha, dimana 84,49% (2,796 ha) merupakan perkebunan rakyat. Oleh karena itu, maju mundurnya kinerja industri karet alam di dalam negeri akan memberikan dampak yang cukup luas bagi kesejahteraan rakyat.

      Menurut data International Rubber Study Group (2007), dalam kurun waktu 5 tahun terakhir konsumsi karet alam di dalam negeri meningkat rata-rata sebesar 10,98 % per tahun, sedangkan di dunia internasional meningkat rata-rata 4,72 % per tahun. Peningkatan harga minyak bumi yang sangat tajam di pasaran internasional, menyebabkan permintaan terhadap karet alam naik pesat, karena karet sintetis yang bahan bakunya berasal dari fraksi minyak bumi harganya ikut meningkat tajam. Terkait dengan hal itu beberapa lembaga perkaretan internasional memprediksi permintaan karet alam dunia ke depan akan meningkat lebih tinggi yaitu pada tahun 2007 diperkirakan sebesar 6,2 % dan tahun 2008 sebesar 7,5 %.
      Peluang yang cerah bagi perkaretan nasional tentunya hanya bisa diraih jika Indonesia mampu meningkatkan kinerja agroindustri karetnya, antara lain melalui peningkatan mutu crumb rubber. Terkait dengan itu, akhir-akhir ini banyak muncul keluhan (complaint) dari beberapa pihak pengimport karet alam (terutama pabrik ban) terhadap mutu Crumb Rubber asal Indonesia, karena disinyalir mengandung kontaminan kimiawi yang sangat berpengaruh terhadap mutu produk karet hilirnya.

      Secara garis besar, kontaminan pada bokar dapat dibedakan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama bersifat innert (fisik), contohnya adalah pasir, kerikil, tatal, ranting, daun-daun dan bekas-bekas tali, sudah biasa terkandung di dalam bokar terutama dari perkebunan rakyat, relatip mudah dikeluarkan karena kasat mata, serta pabrik sudah memiliki berbagai perangkat mesin pembersih mulai dari bale cutter, prebreaker, hammer-mill, hingga kreper. Jenis kontaminan yang kedua adalah bersifat kimiawi, sepintas berwarna menyerupai bokar sehingga sukar dilihat tanpa pengematan yang jeli, contohnya adalah vulkanisat dari reject barang jadi lateks (busa, sarung tangan, balon, dll), dan sisa-sisa koagulan asam keras.



    2. Maksud dan Tujuan
    3. Maksud dan tujuan dilakukan kegiatan ini adalah melakukan inisiasi untuk meningkatan upaya performance industri karet nasional dalam menghadapi begitu ketatnya persaingan pasar karet remah di dunia internasional


    4. Sasaran / Keluaran
    5. Berkurangnya keluhan pelanggan, khususnya pelanggan dari importir luar negeri terhadap Industri Crumb Rubber nasional, terutama terkait dengan isu kontaminan berupa vulkanisat dari karet.


    6. Ruang Lingkup Kegiatan

    7. Indikator Kerja
    8. Tersusunnya usulan teknik-teknik pendeteksian dini kontaminan dalam bokar dengan mudah dan biaya yang relatif murah.


    9. Hasil yang Diharapkan
    10. Adanya masukan / rekomendasi kepada Pemerintah yang berupa pedoman dalam menangani teknik-teknik pendeteksian dini kontaminan pada bokar, yang diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan bagi Industri Crumb Rubber nasional dalam mengantisipasi adanya kontaminasi pada Crumb Rubber yang dihasilkan. Diharapkan di tahun mendatang pedoman tersebut dapat disosialisasikan kepada masyarakat umum atay masyaralat industri crumb rubber khususnya.

    Gambaran Umum Industri Karet Alam

    1. Peranan Karet Alam Dalam Perekonomian Nasional
    2. Karet memiliki berbagai peranan penting bagi Indonesia, antara lain : (a) Sumber pendapatan dan lapangan kerja penduduk; (b) Sumber devisa negara dari ekspor non-migas; (c) Mendorong tumbuhnya agro-industri di bidang perkebunan; dan (d) Sumber daya hayati dan pelestarian lingkungan. Luas areal tanaman karet pada tahun 2006 sekitar 3,31 juta hektar, dengan produksi 2,64 juta ton atau 27,3% produksi karet alam dunia (9.2 juta ton), menempatkan Indonesia sebagai negara penghasil karet alam terbesar kedua setelah Thailand (IRSG, 2007)

      Pada tahun 2005, karet mampu menghasilkan devisa hingga US $ 2,58 milyar, naik menjadi US $ 3,77 milyar pad tahun 2006, menempatkan karet sebagai komoditas penghasil devisa terbesar diantara komoditas perkebunan. Ekspor Karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 1.0 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1,3 juta ton pada tahun 1995 dan 2,29 juta ton pada tahun 2006. Pendapatan devisa dari komoditi ini pada tahun 2005 mencapai US$ 2,58 milyar, dan meningkat tajam menjadi US $ 4,36 milyar pada tahun 2006 seiring dengan melonjaknya harga karet dari 1,2 USD/kg hingga sekitar 2 USD/kg pada tahun 2006 (Depperind, 2007).

      Bagi perekonomian nasional, karet merupakan komoditas perkebunan yang sangat penting. Selain sebagai sumber lapangan kerja, komoditas ini juga memberikan kontribusi yang signifikan sebagai salah satu sumber devisa non-migas, pemasok bahan baku karet dan berperan penting dalam mendorong pertumbuhan sentra-sentra ekonomi baru di wilayah-wilayah pengembangan karet. Karet bersama-sama dengan kelapa sawit merupakan dua komoditas utama penghasil devisa terbesar dari subsektor perkebunan. dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, karet menyumbang devisa dari 25% hingga 40% terhadap total ekspor produk perkebunan.

      Disamping sebagai penghasil devisa ekspor, perkebunan karet sebagian besar merupakan perkebunan rakyat dengan rata-rata luas kepemilikan relatip kecil, tetapi merupakan sumber mata penghasilan bagi berjuta-juta keluarga petani karet. Pada tahun 2006, luas areal perkebunan rakyat mencapai tidak kurang dari 85%, sisanya merupakan perkebunan Negara dan Swasta. Dari total produksi, hampir 76% nya berasal dari perkebunan rakyat.


    3. Prospek Perdagangan Karet Alam
    4. Hasil kajian para pakar memperlihatkan bahwa prospek perdagangan karet alam dunia sangat baik. Dalam jangka panjang, perkembangan produksi dan konsumsi karet menurut ramalan ahli pemasaran karet dunia yang juga Sekretaris Jenderal International Rubber Study Group, Dr. Hidde P. Smit, mennunjukkan bahwa konsumsi karet alam akan mengalami peningkatan yang sangat signifikan dari 8,5 juta ton di tahun 2005, naik menjadi 9,23 pada tahun 2006, dan diprediksi menjadi 11,9 juta ton pada tahun 2020

      Sementara itu produksi karet alam dunia sebesar 8,5 juta ton pada tahun 2005, naik menjadi 9,18 juta ton pada tahun 2006, diprediksi menjadi 11,4 juta ton di tahun 2020. Harga karet alam di pasar dunia juga diprediksikan tetap bertahan pada level di atas US $ 1 per kg, bahkan pada tahun 2013 diperkirakan bisa menembus US $ 2,4 per kg dan bahkan level harga tersebut telah dicapai pada tahun 2006 ini. Pada tahun 2020 diperkirakan harga karet alam di pasaran dunia tetap bertahan pada angka US $ 1,9 per kg.

      Timbulnya peningkatan konsumsi karet alam di negara-negara Asia disebabkan makin meningkatnya perkembangan industri ban dan komponen industri lainnya. Konsumsi karet alam dan karet sintetik dunia yang pada tahun 2004 baru mencapai 20,03 juta ton akan meningkat mencapai 28,67 juta ton pada tahun 2020, diantaranya 11,9 juta ton karet alam. Indonesia diharapkan dapat memasok 3,5 juta ton pada tahun 2020.

      ISRG berpendapat bahwa pada jangka panjang diperkirakan terdapat kekurangan pasok yang tidak saja disebabkan oleh permintaan dunia yang meningkat dengan cepat tetapi juga 2 diantara 3 negara penghasil karet alam yaitu Malaysia dan Thailand yang merupakan negara dengan ekonomi yang berkembang cepat, mungkin menjadi generasi baru dari Newly Industrialized Countries (NICs), sehingga kedua negara akan meninggalkan agrobisnis karet. Indonesia diharapkan dapat mengisi kekurangan pasok untuk kebutuhan dunia.


    5. Kondisi Industri Primer Karet Alam
    6. Selama lebih dari 35 tahun (1970-2006), areal perkebunan karet di Indonesia meningkat sekitar 4,8% per tahun, namun pertumbuhan yang nyata terutama terjadi pada areal karet rakyat, sedangkan pada perkebunan besar negara dan swasta sangat rendah, dibawah 1% pertahun. Dari keseluruhan areal perkebunan rakyat tersebut, sebagian besar (± 91%) dikembangkan secara swadaya murni, dan sisanya (± 9 %) dibangun melalui proyek-proyek PIR, PRPTE, UPP Berbantuan, Partial, dan Swadaya Berbantuan.

      Permasalahan utama yang dihadapi perkebunan karet nasional adalah rendahnya produktivitas karet rakyat (600-800 kg/ha/th), antara lain karena sebagian besar tanaman masih menggunakan bahan tanam asal biji (seedling) tanpa pemeliharaan yang baik, dan tingginya proporsi areal tanaman karet yang telah tua, rusak atau tidak produktif (± 13% dari total areal). Pada saat ini sekitar 400 ribu ha areal karet berada dalam kondisi tua dan rusak dan sekitar 2-3% dari areal tanaman menghasilkan (TM) yang ada setiap tahun akan memerlukan peremajaan.

      Persoalan mendasar untuk meningkatkan produktivitas karet rakyat melalui peremajaan tanaman tua/rusak adalah masalah dana khusus untuk peremajaan dengan suku bunga yang wajar sesuai dengan tingkat resiko yang dihadapi. Hal ini sangat berbeda dengan negara-negara produsen utama karet lainnya seperti Thailand, Malaysia dan India. Dana pengembangan, promosi, dan peremajaan karet di negara-negara tersebut umumnya disediakan oleh pemerintah yang diperoleh dari pungutan CESS ekspor komoditas karet. Di Indonesia, pungutan CESS untuk pengembangan komoditas perkebunan telah dihentikan sejak tahun 1970

      Permasalahan utama lainnya di perkebunan karet rakyat adalah bahwa bahan baku yang dihasilkan umumnya bermutu rendah, dan pada sebagian lokasi harga yang diterima di tingkat petani masih relatif rendah (60-75% dari harga FOB) karena belum efisiennya sistem pemasaran bahan olah karet rakyat (bokar), antara lain disebabkan lokasi kebun jauh dari pabrik pengolah karet dan letak kebun terpencar-pencar dalam skala luasan yang relatif kecil dengan akses yang terbatas terhadap fasilitas angkutan, sehingga biaya transportasi menjadi tinggi.

      Bahan olah karet dari petani pada umumnya berupa bekuan karet yang dibekukan dengan bahan pembeku yang direkomendasikan (asam format), maupun yang tidak direkomendasikan (asam cuka, tawas, dsb), serta pembekuan secara alami. Pada saat ini bahan olah karet tersebut mendominasi pasar karet di Indonesia karena dinilai petani paling praktis dan menguntungkan.

      Bahan olah karet berupa lateks dan koagulum lapangan, baik yang dihasilkan oleh perkebunan rakyat maupun perkebunan besar dapat diolah menjadi komoditas primer dalam berbagai jenis mutu. Lateks kebun dapat diolah menjadi lateks pekat dan lateks dadih serta karet padat dalam bentuk RSS, SIR 3L, SIR 3CV, SIR 3WF dan thin pale crepe yang tergolong karet jenis mutu tinggi (high grades). Sementara koagulum lapangan, yakni lateks yang membeku secara alami atau dengan koagulan selanjutnya hanya dapat diolah menjadi SIR10, SIR 20 dan brown crepe yang tergolong jenis karet mutu rendah (low grades)

      Sebagian besar produk karet Indonesia diolah menjadi karet remah (crumb rubber) dengan kodifikasi “Standard Indonesian Rubber” (SIR), sedangkan lainnya diolah dalam bentuk RSS dan lateks pekat. Kapasitas pabrik pengolahan crumb rubber pada saat ini sesungguhnya sudah melebihi dari kapasitas penyediaan bokar dari perkebunan rakyat, namun pada lima tahun mendatang diperlukan investasi baik untuk merehabilitasi pabrik yang ada maupun untuk membangun pabrik pengolahan baru untuk menampung pertumbuhan pasokan bahan baku yang diperhitungkan akan meningkat seiring dengan gencarnya upaya-upaya peremajaan dan perluasan areal kebun karet yang baru.

      Prospek bisnis pengolahan crumb rubber ke depan diperkirakan tetap menarik, karena marjin keuntungan yang diperoleh pabrik relatif pasti. Marjin pemasaran, antara tahun 2000-2006 berkisar antara 3,7%-32,5% dan marjin keuntungan pabrik pengolahan antara 2-4% dari harga FOB, tergantung pada tingkat harga yang berlaku. Tingkat harga FOB itu sendiri sangat dipengaruhi oleh harga dunia yang mencerminkan permintaan dan penawaran karet alam, dan harga beli pabrik dipengaruhi kontrak pabrik dengan pembeli/buyer (biasanya pabrik ban) yang harus dipenuhi. Pada umumnya marjin yang diterima pabrik akan semakin besar jika harga meningkat.


    7. Perkembangan Industri Crumb Rubber
    8. Pada awalnya sebagian besar karet alam Indonesia diperdagangkan dalam bentuk karet lembaran yakni karet sit asap (RSS = ribbed smoked sheet), Namun sejak diperkenalkan teknologi karet remah (crumb rubber) pada tahun 1968, produksi karet sit secara dramastis menurun, beralih ke karet remah, tidak kurang dari 90% produksi karet alam nasional setiap tahunnya merupakan karet remah.

      Tingginya permintaan pasar terhadap karet remah untuk dijadikan bahan pembuatan komponen teknik terutama ban kendaraan bermotor, dan ditunjang dengan jaminan ketersediaan bahan bakunya (bahan olah karet), menyebabkan perkembangan teknologi karet remah saat ini sudah sedemikian pesat. Pada tahun 1969 terdapat 65 pabrik, kini sekitar 115 pabrik karet remah yang aktif beroperasi di Indonesia.

      Tuntutan permintaan yang tinggi dari sektor transportasi terhadap karet alam sukar dipenuhi oleh karet lembaran, karena karet jenis ini memerlukan waktu pengolahan yang cukup lama yakni 7-14 hari. Dengan teknologi karet remah, bahan olah karet secara cepat, kurang dari 1 hari dapat diolah menjadi karet mentah yang siap untuk dijual. Selain itu, mutu karet remah dinilai berdasarkan hasil analisis fisiko-kimia, sehingga dianggap lebih "fair " dibandingkan mutu karet lembaran yang dinilai hanya berdasarkan pengamatan visual dan bersifat subyektif.

      Pada saat karet lembaran masih mendominasi produksi karet alam, petani berperan sebagai penghasil lateks, dan banyak juga yang sekaligus sebagai pengolahnya untuk dijadikan karet sit. Namun sejak penerapan teknologi karet remah, petani umumnya hanya berperan sebagai penyedia bahan olah berupa lump dan slab. Lump merupakan bahan olah karet yang dibuat dari lateks yang digumpalkan menjadi berbentuk mangkok berdiameter sekitar 10-15 cm, sedangkan slab berbentuk balok tipis hingga berukuran sekitar 35cmx50cm, tebal 20 cm.

      Bahan olah karet dari petani dijual ke prosesor akhir yakni pabrik karet remah untuk diolah menjadi karet remah jenis SIR (Standard Indonesian Rubber) 10, atau SIR 20. Pengolahan melibatkan serangkaian proses mulai dari pengecilan ukuran, pencucian, homogenisasi, pengeringan dan pengemasan.

      Sejak dimulainya era karet remah, SIR 20 senantiasa mendominasi jenis karet remah yang diproduksi. Saat ini ekspor karet remah SIR 20 sekitar 85%. Dengan demikian tampak bahwa bahan olah karet lump dan slab sangat penting peranannya sebagai bahan baku untuk pembuatan karet remah. Pada Tabel 2.1 berikut ditampilkan perkembangan volume ekspor karet alam selama beberapa tahun terakhir. Tampak untuk kurun waktu 5 tahun terakhir, karet SIR 20 sangat dominan sebagai produks ekspor, rata-rata porsinya mencapai hampir 90%.


      Tabel 2.1. Perkembangan Ekspor Karet Alam Menurut Jenis (ribu ton)

      Jenis Mutu 2002 2003 2004 2005 2006 Rataan Proporsi (%)
      Lateks Pekat 8,6 12,5 11,7 4,0 7,9 8,9 0,48
      RSS 44,2 46,2 145,9 334,1 320,1 178,1 9,59
      Total SIR 1437,1 1589,4 1684,9 1674,7 1959 1669,0 89,93
      SIR 5 1,8 74,4 116,1 64,8 - - -
      SIR 10 6,.6 59,8 32,2 3,4 - - -
      SIR 20 1318,6 1332,3 1524,4 1605,9 - - -
      SIR lain 25 122,8 12,1 0,5 - - -
      Lain-lain 7,4 12,8 31,6 10,5 - - -
      Total 1497,3 1660,9 1874,1 2023,3 2287 1856 100

    9. Kebijakan Pembangunan Industri Karet
    10. Dalam Kebijakan Pembangunan Industri Nasional, dikemukakan bahwa berdasarkan pertimbangan terdapatnya permasalahan yang mendesak yakni penyerapan tenaga kerja, pemenuhan kebutuhan dasar dalam negeri, pengolahan hasil pertanian dalam arti luas dan sumber daya alam negeri, dan memiliki potensi pengembangan ekspor yang tinggi maka fokus pembangunan industri pada adalah penguatan dan penumbuhan klaster-klaster industri inti, yaitu : 1) Industri makanan dan minuman; 2) Industri pengolahan hasil laut; 3) Industri tekstil dan produk tekstil; 4) Industri alas kaki; 5) Industri kelapa sawit; 6) Industri barang kayu (termasuk rotan dan bambu); 7) Industri karet dan barang karet; 8) Industri Pulp dan kertas; 9) Industri mesin listrik dan peralatan listrik; dan 10) Industri petrokimia. Pengembangan 10 klaster industri inti tersebut, secara komprehensif dan integratif, ditunjang industri terkait (related industries) dan industri pendukung (supporting industries).

      Pemerintah telah menetapkan sasaran pengembangan industri pengolahan karet adalah industri berskala kecil, menengah dan besar, dimana dalam jangka menengah yang ingin dicapai adalah meningkatnya mutu Bahan Olah Karet (Bokar) sesuai SNI, terpeliharanya kestabilan harga di tingkat petani, dan tumbuhnya industri pendukung (terutama koagulan, bead wire, nylon tyre-cord, dll). Sedangkan dalam jangka panjang, target pengembangan industri karet adalah menjadikan Indonesia sebagai produsen karet olahan nomor 1 dunia yang ditunjang oleh industri pendukung yang kuat

      Sasaran pengembangan industri pengolahan karet yang tersebut di atas, dijabarkan dalam uraian pokok-pokok rencana aksi yang akan dilaksanakan dalam jangka menengah dan panjang.

    Rencana aksi jangka menengah :


    Rencana aksi jangka panjang :

    Hasil Pengamatan Karakteristik Bahan Baku Crumb Rubber

    1. Jenis-Jenis Karet Alam
    2. Karet merupakan polimer yang bersifat elastis, sehingga dinamakan pula sebagai elastomer. Saat ini karet tergolong atas karet sintetik dan karet alam. Karet sintetik dibuat secara polimerisasi fraksi-fraksi minyak bumi. Contoh karet sintetik yang kini banyak beredar adalah SBR (Strirene Butadiene Rubber), NBR (Nitrile Butadiene Rubber), karet silikon, Urethane, dan karet EPDM (Ethilene Propilene Di Monomer).
      Karet alam diperoleh dengan cara penyadapan pohon Hevea Braziliensis. Karet alam memiliki berbagai keunggulan dibanding karet sintetik, terutama dalam hal elastisitas, daya redam getaran, sifat lekuk lentur (flex-cracking) dan umur kelelahan (fatigue). Berdasarkan keunggulan tersebut, maka saat ini karet alam sangat dibutuhkan terutama oleh industri ban.
      Dewasa ini karet alam diproduksi dalam berbagai jenis, yakni lateks pekat, karet sit asap, karet krep dan crumb rubber.

      1. Lateks pekat diolah langsung dari lateks kebun melalui proses pemekatan yang umumnya secara sentrifugasi sehingga kadar airnya turun dari sekitar 70% menjadi 40-45%. Lateks pekat banyak dikonsumsi untuk bahan baku sarung tangan, kondom, benang karet, balon, kateter, dan barang jadi lateks lainnya. Mutu lateks pekat dibedakan berdasarkan analisis kimia antara lain kadar karet kering, kadar NaOH, Nitrogen, MST dan analisis kimia lainnya.
      2. b) Karet sit asap atau dikenal dengan nama RSS (Ribbed Smoked Sheet) dan karet krep (crepe) digolongkan sebagai karet konvensional, juga dibuat langsung dari lateks kebun, dengan terlebih dulu menggumpalkannya kemudian digiling menjadi lembaran-lembaran tipis, dan dikeringkan dengan cara pengasapan untuk karet sit asap, dan dengan cara pengeringan menggunakan udara panas untuk karet krep. Mutu karet konvensional dinilai berdasarkan analisis visual permukaan lembaran karet. Mutu karet akani makin tinggi bila permukaannya makin seragam, tidak ada gelembung, tidak mulur, dan tidak ada kotoran serta teksturnya makin kekar/kokoh.
      3. c) Crumb rubber (karet remah) digolongkan sebagai karet spesifikasi teknis (TSR=Technical Spesified Rubber), karena penilaian mutunya tidak dilakukan secara visual, namun dengan cara menganalisis sifat-sifat fisiko-kimianya seperti kadar abu, kadar kotoran, kadar N, plastisitas Wallace dan viskositas Mooney. Crumb rubber produksi Indonesia dikenal dengan nama SIR (Standard Indonesian Rubber). Saat ini umumnya (SIR 10 dan 20) dibuat dari lump atau sleb dari perkebunan rakyat. Disebabkan bahan bakunya kotor, maka proses pengolahan dipabrik crumb rubber melibatkan berbagai peralatan pengecilan ukuran (size reduction) dan pencucian.


    3. Klasifikasi Jenis Bahan Olah Karet (Bokar)
    4. Berdasarkan standar mutu bokar yang berlaku saat ini (SNI 06-2047-2002) sebagaimana disajikan pada Tabel 3.1, terdapat 4 jenis bahan olah karet yakni lateks kebun, dan koagulumnya dalam bentuk sit, lump dan slab.


    5. Sistem Tataniaga Bahan Olah Karet

    6. Perkembangan Mutu Bahan Baku Crumb Rubber
    7. Sesuai dengan pola bisnis pada umumnya yang ingin mendapatkan margin sebesar-besarnya dari hasil penjualan produk, maka di dalam perdagangan bahan baku karet (bokar) senantiasa muncul upaya untuk memanipulasi berat dengan cara menambahkan zat-zat pengotor. Manipulasi berat bahan baku crumb rubber relatip mudah dilakukan dibanding terhadap lateks pekat dan sit asap, berdasarkan pertimbangan sebagai berikut.

      1. Lateks pekat dan karet lembaran (sit asap dan krep) berbahan baku langsung dari lateks kebun yang masih segar, sehingga penambahan zat pengotor akan langsung terlihat dengan kasat mata, serta pengaruh buruknya terjadi secara langsung pula terhadap produk lateks pekat maupun sit asap/krep yang dihasilkannya.
      2. Pengusahaan lateks pekat dan karet lembaran secara umum dilakukan oleh perusahaan BUMN dan Swasta Besar, yang memiliki organisasi dan manejemen produksi yang sangat baik, sehingga meminimalkan kemungkinan terjadinya kontamiasi di dalam bahan baku yang akan diproses di pabriknya.
      3. Perusahaan lateks pekat dan sit asap/krep umumnya memiliki lahan sendiri yang telah terintegrasi dengan pabrik pengolahannya.


      Karet sit sesungguhnya memiliki mutu yang relatip baik dibanding karet remah, karena dibuat langsung dari lateks dengan prosedur yang ketat, antara lain penggumpalan harus sesegera mungkin, karena jika lateksnya kurang segar akan dihasilkan karet sit mutu rendah. Ketebalan lembarannya harus cukup tipis (1-3 mm), sehingga mengurangi peluang timbulnya kesengajaan memasukan kotoran agar beratnya meningkat. Suhu pengeringan maksimum 55-60 oC, karena suhu yang tinggi akan menyebabkan permukaan karet bergelembung dan lengket.

      Industri crumb rubber pada hakekatnya hanya merupakan industri pencucian dan pengeringan secara singkat. Berbeda dengan karet sit asap atau krep, karet remah dapat dibuat dari lateks yang telah menggumpal (koagulum) baik yang segar maupun yang sudah lama terperam, dengan sembarang bentuk dan ukuran, sehingga. membuka peluang kesengajaan memasukkan kotoran agar beratnya meningkat. Sejak terlahir pada tahun 1968, industri crumb rubber telah mengalami perkembangan teknologi untuk menyesuaikan terhadap kapasitas dan kondisi bahan baku yang tersedia.


      Dari uraian di atas tampak bahwa terdapat kaitan atau sebab akibat yang sangat erat antara peningkatan konsumsi dunia untuk crumb rubber, daya pasok bokar, kapasitas pabrik, teknologi pengolahan, dan karakteristik bahan baku. Peningkatan konsumsi dunia menyebabkan peningkatan kapasitas produksi pabrik. Kondisi ini berdampak persaingan memperebutkan bahan olah semakin tajam, sehingga aspek mutu mulai diabaikan, memicu petani untuk berlomba-lomba menyediakan bahan baku dengan sasaran utamanya adalah kuantitas.

      Pengawasan mutu yang lemah dan tidak adanya insentif harga terhadap mutu, merupakan faktor utama yang mendorong upaya memanipulasi berat bokar dengan cara membubuhkan bahan-bahan non-karet, agar berat bokar dapat ditingkatkan dengan harapan harganyapun dapat dinaikkan.

      Untuk memperbaiki mutu bokar dan memperkecil keragaman jenis bokar, pemerintah sejak tahun 1984 telah membakukan bokar melalui SPI-BUN 02/02/1984. Sejalan dengan Revisi Skema SIR pada tahun 1988, SPI Bokar tersebut disempurnakan menjadi SPI-BUN 02/02/1988. Pada tahun 1990 SPI Bokar diangkat oleh Dewan Standardisasi Nasional (DSN) menjadi Standar Nasional Indonesia SNI 06 - 2047 - 1990 Bokar.

      Adanya SNI Bokar SNI 06-2047-1990 seharusnya sangat membantu perbaikan mutu, namun disayangkan bahwa standar ini sulit diaplikasikan di lapangan. Selain itu SNI Bokar bersifat sukarela (voluntary), berbeda dengan SNI untuk crumb rubber dan RSS yang bersifat wajib (mandatory).

      Untuk mengeliminir kendala tersebut, pemerintah melalui Badan Standardisasi Nasional telah merevisi SNI Bokar menjadi SNI 06-2047-1998 berdasarkan Surat Keputusan No. 102/BSN-I/KH/05/98 tanggal 26 Mei 1998. Penerapan SNI bersifat wajib (mandatory) yang diharapkan berdampak lanjut sampai ke tingkat petani untuk menghasilkan bokar bermutu baik.

      Sekalipun SNI 06-2047-1998, bersifat mandatory, namun penerapannya mengalami kesulitan, antara lain disebabkan kurangnya tenaga pelaksana pengawasan penerapan standar mutu. Selain itu Kapasitas terpasang pabrik telah melampaui kemampuan pasok bahan olah menyebabkan pabrik kurang tertarik untuk menyeleksi bahan olah, selama target produksi belum terpenuhi.

      Belum terlaksananya penerapan standar mutu bokar secara efektif menyebabkan kondisi bokar belum mengalami peningkatan berarti. Hal ini menyebabkan permasalahan konsistensi mutu masih belum terpecahkan sepenuhnya secara mendasar. Pihak pabrik masih mengandal-kan cara-cara lama untuk memenuhi permintaan konsumen, yakni dengan cara mencampur berbagai jenis bahan olah dengan harapan kualitas produk memenuhi kisaran permintaan yang dipersyaratkan konsumen. Selain itu, terkadang pabrik juga melakukan pengujian total seluruh bandela karet yang dihasilkan dan mengeluarkan produk yang tidak memenuhi persyaratan permintaan konsumen. Selama ini praktek tersebut mampu memenuhi tuntutan konsumen, namun membutuhkan suatu usaha tertentu berupa pencampuran bahan olah yang intensif dan seratus persen pengecekan terhadap hasil crumb rubber

      Guna meningkatkan kemudahan implementasi SNI Bokar, pemerintah kembali merevisi SNI bokar menjadi SNI 06-2047-2002 (Tabel 3.1) yang lebih memberi keleluasaan untuk persyaratan tebal dan metode koagulasi. Efektifitas pemberlakuan SNI bokar yang baru tersebut saat ini masih belum dapat teridentifikasi, diperlukan waktu yang cukup untuk memasyarakannya.

    Hasil Pengamatan Masalah Kontaminasi Pada Bahan Olah Karet

    1. Pengertian Kontaminan
    2. Lateks sebagai sumber pertama dari bahan baku crumb rubber sesungguhnya merupakan material alam yang sangat bersih, bahkan mengandung bahan-bahan yang berperan penting dalam menjaga mutunya agar tetap baik. Didalam lateks, selain hidrokarbon karet (polimer poliisoprena), terkandung juga berbagai senyawa penting antara lain lipid dan protein. Lipid berperan sebagai antioksidan, yakni bahan pencegah terjadinya oksidasi terhadap molekul karet. Sedangkan protein, selain berfungsi sebagai penstabil sistem koloid lateks juga berperan sebagai bahan yang mempercepat proses vulkanisasi pada pembuatan barang jadi karet. Masuknya kontaminan ke dalam karet, akan merusak bahan-bahan alami tersebut (Archer, et al., 1983).

      Kontaminasi terhadap sesuatu produk diartikan sebagai pencemaran. Dengan demikian kontaminan bisa didefinisikan sebagai zat pencemar, karena berdampak buruk terhadap mutu, seperti bersifat meracuni, produk menjadi cepat busuk, merusak tekstur, warna, rasa dan kerusakan mutu lainnya. Demikian pula untuk karet, kontaminan bisa menyebabkan karet mudah teroksidasi, memperlemah elastisitas, menurunkan kekuatan tarik, dan ketahanan sobek dari vulkanisatnya.

      Sebagai contoh kasus untuk karet, tawas sebagai koagulan bisa dianggap sebagai kontaminan, karena didalam tawas terkandung logam alkali yang bersifat sebagai pro-oksidan, serta berdampak menahan air yang memudahkan berkembangnya mikroorganisme pengurai protein dan hidrokarbon karet. Itulah sebabnya mengapa koagulan yang disarankan hingga kini adalah asam semut, asam cuka atau asam lemah lainnya. Koagulan-koagulan tersebut tidak berbahaya, bahkan meningkatkan mutu karena bersifat mendorong air/serum untuk segera keluar dari koagulum.

      Contoh lain yang sering terjadi di dalam bahan baku crumb rubber adalah sering masuknya pasir dan tatal ke dalam bokar secara sengaja maupun tidak disengaja. Untuk mengeluarkan kedua zat pengotor tersebut diperlukan serangkaian proses pengecilan dan pencucian yang banyak memerlukan air, listrik dan waktu proses. Dengan demikian, kontaminan tidak hanya berpengaruh langsung terhadap mutu produk, namun juga memerlukan biaya ekstra untuk membersihkannya.


    3. Jenis-Jenis Kontaminan Di Dalam Bokar
    4. Kontaminasi crumb rubber dapat berupa kontaminasi oleh pasir, tanah liat, tatal, potongan ranting, bahan penggumpal yang tidak disarankan (gadung dan pupuk), potongan kayu dari palet. Kontaminasi lain yang belakangan ini terjadi dan yang paling ditakuti oleh industri ban adalah kontaminasi oleh serat polipropilen, kompon lateks dan vulkanisat.
      Bahan-bahan kontaminan tersebut masuk ke dalam karet pada saat penyiapan dan penanganan bokar. Pada dasarnya, lateks yang keluar dari pohon karet adalah suatu bahan yang bersih (bebas dari kontaminan tersebut). Masuknya kontaminan ke dalam bokar dapat terjadi karena faktor kesengajaan atau akibat prosedur penggumpalannya tidak dilakukan secara hati-hati.

      1. Bahan-bahan kontaminan masuk ke dalam lateks atau karet, secara tidak sengaja akibat praktik penanganan dan pengolahan bahan olah yang kurang tepat, seperti penggumpalan lateks dalam lubang pada tanah, penyimpanan koagulum dalam semak berlumpur dan penggunaan bahan penggumpal dari parutan gadung dan umbi-umbian lain
      2. Kontaminasi yang terjadi sebagai ekses ikutan akibat penambahan bahan-bahan tertentu secara sengaja untuk mendapatkan keuntungan lebih dari penambahan bobot bokar. Penambahan tatal, penggunaan pupuk sebagai penggumpal, dan bahkan kaolin ke dalam lateks sehingga diperoleh bobot tambahan masih dipraktekkan, sekalipun hal ini dilarang menurut standar bokar
      3. Kontaminan yang paling ditakuti adalah kontaminan berupa serpihan serat polipropilen. Kontaminan ini berasal dari karung yang digunakan sebagai alat pengangkut bokar. Bagian karung yang rusak lengket pada lum atau ojol yang diangkut dan terbawa ke pabrik pengolahan karet. Pada saat pemecahan bahan olah dengan prebreaker dan hammer mill, serat plastik ini pecah menjadi serpihan kecil bercampur dengan potongan karet. Kontaminan ini sulit dipisahkan karena mengapung di air terbawa aliran bahan olah karet bila tidak terditeksi oleh petugas. Hal inilah yang sangat dikawatirkan oleh pihak prosesor crumb rubber.
      4. Selain selat polipropilen, akhir-akhir ini ditemukan pula kontaminan berupa limbah kompon dan limbah vulkanisat yang berasal dari barang jadi lateks seperti sisa-sisa (reject) karet busa, sarung tangan, balon putih dan vulkanisat barang jadi lateks lainnya. Kontaminan yang bersifat kimiawi ini sepintas menyerupai tampilan bokar sehingga sulit terdeteksi secara kasat mata.


      Kontaminan-kontaminan kelompok (a) dan (b) di atas sudah lama terjadi dan secara umum didapatkan di dalam bokar dari perkebunan rakyat. Kontaminan seperti pasir, kerikil, ranting, daun-daunan relatip mudah dihilangkan dengan peralatan pengolahan crumb rubber, walupun dengan konsekuensi diperlukan energi listrik dan air yang relatip banyak serta berakibat buruk terhadap limbah cairnya.
      Untuk kontaminan jenis (c) dan (d) tersebut di atas sulit bersatu dengan karet dan akan merupakan titik lemah. Pada produk ban, adanya titik lemah tersebut dapat menyebabkan ban sopek bahkan pecah/meletus pada saat digunakan. Hal ini sangat berbahaya bagi keselamatan penumpang, sekaligus berdampak buruk terhadap citra kualitas ban. Oleh karena itu, industri ban sangat khawatir terhadap adanya kontaminan ini.


    5. Penanggulangan Kontaminan
    6. Pabrik crumb rubber yang mengalami masalah kontaminan, untuk sementara ini telah melakukan beberapa cara penanggulangan, walaupun hasilnya belum optimal.

      1. Kontaminan tatal, pasir, tanah atau lumpur, secara teknis sudah bisa dipisahkan dengan peralatan-peralatan pabrik seperti pre-breaker, lump crusher, bak makroblending, dan hammer-mill atu granulator.
      2. Kontaminan vulkanisat umumnya berwarna putih dengan bentuk dan ukuran beragam, antara lain berupa serpihan, masip, lembaran tipis, menyerupai spons, dan lempengan setebal 1-3 cm. Berdasarkan tampilannya, diduga vulkanisat terebut adalah produk-produk reject atau sisa-sisa proses dari kegiatan pembuatan sarung tangan, karet busa, balon dan barang-barang lateks atau barang-barang karet padat dengan pengisi kaolin, kalsium karbonat atau silika.
      3. Kontaminan vulkanisat ada yang bisa langsung terdeteksi pada saat sortasi awal, jika warnanya abu-abu, atau tidak berwarna putih. Namun untuk yang berwrna putih sukar teramati jika tidak dilihat secara seksama
      4. Jika lolos pada tahap sortasi awal, kontaminan baru terdeteksi pada tahap pre-drying, dimana blanket dari bahan murni akan berubah warna dari putih menjadi coklat muda atau cokelat gelap akibat turunnya kadar air, sedangkan kontaminan vulkanisat tetap berwarna putih.
      5. Bagi pabrik yang telah menjalankan manajemen pengolahan secara akan melakukan tindakan untuk memisahkan blanaket yang tercemar tersebut, untuk mengeluarkan kontaminannya.
      6. Pekerjaan pemisahan kontaminan vulkanisat dari blanket sepenuhnya dilakukan secara manual, sehingga sangat melelahkan, menguras tenaga dan memerlukan biaya ekstra. Pekerjaan ini sangat beresiko tinggi, karena bersifat subyektif, sukar terjamin bahwa blanket hasil sortasi akan betul-betul terbebas dari kontaminan vulaknisat, terutama untuk kasus-kasus dimana kontaminan tersebut berukuran kecil dan menyebar merata di seluruh blanket.
      7. Beberapa pabrik di Sumut dan Sumsel telah mengeluarkan langkah preventip yang cukup berani, yakni akan menolak seluruh kiriman lump/sleb dari seseorang pedagang, jika pada sortasi awal ditemukan adanya kontaminan vulkanisat. Tindakan tersebut terpaksa diambil guna mencegah dampak yang lebih buruk, walapun dengan langkah itu akan beresiko kekurangan pasok bahan olah.

    7. Persyaratan Mutu Crumb Rubber
    8. Pada Tabel 4.1 disajikan Skema SIR yang merupakan Standar Mutu crumb rubber yang saat ini berlaku untuk karet remah produksi Indonesia. Crumb rubber tidak dapat dinilai secara visual, tetapi harus dinilai atas dasar spesifikasi teknis. Dengan demikian kekurangan-kekurangan dari penilaian visual dapat dihindarkan. Dengan spesifikasi teknis para konsumen karet dapat mengetahui secara obyektif sifat-sifat tertentu dari karet.

      Crumb rubber disebut juga sebagai SIR atau Standard Indonesian Rubber yaitu karet alam produksi Indonesia yang dijual dalam bentuk bongkahan dan mutunya dinilai berdasarkan spesifikasi teknis. Penilaian spesifikasi teknis didasarkan pada hasil analisis dari beberapa syarat uji yang ditetapkan untuk SIR yaitu penetapan kadar kotoran, kadar abu, kadar zat menguap, Po, serta PRI (Plasticity Retention Index), viskositas Mooney dan ASHT (Accelerated Storage Hardening Test).

      Kotoran yang terdapat dalam crumb rubber sangat merusak sifat-sifat dari barang jadi karet terutama ketahanan lentur dan ketahanan pemakaiannya. Sifat-sifat tersebut penting dalam menentukan mutu ban kendaraan bermotor, sehingga makin tinggi kadar kotoran crumb rubber, makin rendah mutunya

      Penentuan kadar abu dimaksudkan untuk menjamin agar karet mentah yang dijual tidak mengandung terlalu banyak bahan-bahan kimia yang banyak dipakai dalam proses pengolahan. Bila pencucian karet kurang bersih maka zat-zat kimia tersebut masih tertinggal dalam karet yang sudah menjadi crumb rubber dan tercermin dari tingginya kadar abu. Adanya pasir juga dapat diketahui dari kadar abu yang tinggi pula.

      Zat menguap dalam karet mentah sebagian besar terdiri dari uap air dan sisanya adalah zat –zat lain yang mudah menguap. Kadar zat menguap secara praktis adalah tidak lain penetapan kadar air karet mentah. Penentuan ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa karet yang dujual telah mengalami pengeringan yang sempurna.



    9. Kaitan Kontaminan Dan Mutu Crumb Rubber
    10. Sifat-sifat karet remah sebagaimana ditampilkan pada Tabel 4.2 sangat dipengaruhi oleh 2 faktor utama, yakni (a) Karakteristik bokar yang digunakan sebagai bahan baku crumb rubber, lateks pekat maupun karet RSS. dan (b) Jalannya proses pengolahan, mulai dari pengecilan ukuran, makroblending, pencampuran mikro di kreper, pre-drying, peremahan, hingga tahap pengeringannya.

      Karakteristik bokar sangat menentukan kualitas crumb rubber yang kelak akan dihasilkannya. Sebagai contoh, jika bokar yang digunakan ternyata banyak berisi kontaminan berupa tanah liat serta terlalu lama direndam di air, maka crumb rubber yang dihasilkannya kelak akan memiliki kadar abu serta kadar zat menguap atau white spot yang tinngi.. Jika suhu pengeringannya terlalu tinggi rendah dan waktunya sangat lambat, maka karet akan lengket dan PRI nya rendah, sehingga tidak standar mutu menurut skema SIR yang berlaku.

      Berikut adalah hasil identifikasi pengaruh karakteristik bahan olah dan faktor pengolahan terhadap kualitas crumb rubber yang dihasilknnya. Hasil penelitian Rama PS Rao (1974). Pocessing problems in SMR factories. Proced. RRIM Planters Conf., 278-290, menunjukkan berbagai kemungkinan faktor karakteristik bahan olah maupun faktor pengolahan yang menjadi penyebab terjadinya kegagalan produksi crumb rubber.


      Volatile Matter (Vm) Tinggi


      Po Rendah




      PRI Rendah


      Kadar Abu Tinggi


      Kadar Kotoran Tinggi

    Teknik Deteksi Dini Kontaminasi

    1. Praktek Sortasi Awal
    2. Sortasi awal pada saat penerimaan bokar di pabrik crumb rubber terutama ditujukan untuk menaksir nilai kadar karet kering. Teknik sampling dengan mengambil hanya sedikit cuplikan masih sukar diterapkan, karena hasilnya tidak mewakili nilai rata-rata keseluruhuan bokar yang diterima. Hal ini disebabkan sangat beragamnya karakteristik bokar, baik bentuk/ukuran, maupun jenis dan komposisi kotorannya (Gambar 5.1).

      Pada Gambar 5.1. ditampilkan contoh-contoh bentuk bokar, dapat berupa lum lepas, lum rekat/ojol, sleb tipis, sleb tebal, sit angin, campuran scrap-ojol, dsb, dengan ukuran mulai dari serpihan hingga balok 20x30x60 cm. Demikian pula jenis dan lokasi kotoran yang terkadang menyebar, memusat di pinggir atau berkelompok di tengah

      Disebabkan sangat bervariasinya kondisi bokar (khususnya dari perkebunan karet rakyat), maka hingga saat ini belum ada metode yang cepat dan akurat untuk penentuan kemurnian kadar karet yang biasanya dinyatakan sebagai kadar karet kering (K3 atau KKK). Prosedur penentuan K3 yang pernah dicoba di lapangan adalah secara penggilingan dan pencacahan untuk mengeluarkan kotoran selanjutnya menimbang berat karet keringnya. Namun cara demikian kurang praktis karena memerlukan waktu yang lama untuk pencacahan maupun pengeringannya. Selain itu agar sampel ujinya cukup mewakili, diperlukan kondisi bokar dengan keseragaman yang cukup tinggi baik jenis, komposisi maupun distribusi kotorannya.

      Belum diperolehnya metode evaluasi mutu yang obyektif, menyebabkan hingga saat ini penentuan K3 masih bersifat subyektif yakni secara visual melalui pembelahan koagulum dan selanjutnya mengamati tingkat kekotorannya untuk memperkirakan kemurnian kadar karet kering. Koagulum yang basah dan banyak mengandung kotoran biasanya ditaksir berkadar karet kering yang rendah. Besarnya nilai K3 praktis ditentukan secara kompromistik yang tidak jarang bersifat sepihak dengan resiko menimbulkan ketidakpuasan bagi pihak pembeli maupun penjual.




      Makin besar penyimpangan terhadap K3, akan makin besar kerugian yang ditimbulkan. Sebagai contoh untuk pabrik karet remah yang berkapasitas 50 ton/hari, pada saat harga karet remah Rp 10.000,-/kg, maka kesalahan perhitungan yang hanya 1% dapat mendatangkan kerugian sekitar Rp 5.000.000,- setiap harinya

      Untuk mengatasi permasalahan di atas, agar hasil pengujian dapat diterima oleh berbagai pihak yang terlibat dalam transaksi jual beli bokar, diperlukan suatu metode penentuan mutu yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak lagi mengandalkan cara perkiraan dan taksiran.


    3. Deteksik Kontaminan Dengan Metode Ultrasonik
    4. Gelombang ultrasonik merupakan gelombang mekanik/akustik dengan frekuensi di atas 20 kHz, sehingga tidak terdengan oleh telinga manusia. Gelombang bunyi (sonik) memiliki daerah frekuensi 20 Hz sampai 20 kHz sehingga masih dapat didengar. Dibawah 20 Hz, manusia kembali tidak mampu menangkapnya. Gelombang akustik pada kondisi ini disebut infrasonik. Untuk menghasilkan gelombang ultrasonik diperlukan suatu transduser, dimana tegangan listrik yang diterima oleh transduser akan diubah menjadi gelombang mekanik.

      Aplikasi gelombang ultrasonik sudah sedemikian luas sejak dimulai penggunaanya pada PD II untuk mendeteksi kedalaman laut. Saat ini teknologi ultrasonik banyak digunakan di bidang-bidang Kedokteran, Geologi dan Industri. Kecepatan gelombang, amplitudo dan panjang gelombangnya di dalam medium yang dilewatinya berbeda satu dengan yang lain tergantung sifat-sifat elastis medium yang dilewatinya, sehingga gelombang ultrasonik disebut juga sebagai gelombang elastis. Sifat elastis ini tentu saja dipengaruhi oleh jenis bahan, komposisi, densitas dan sifat internal lainnya (Döring, 1998).

      Gelombang adalah penjalaran suatu gangguan (disturbance) melewati suatu medium dimana medium tersebut akan kembali ke kondisi semula setelah gangguan melewatinya. Medium yang dilewati bisa berupa material padat, cair atau gas, sedangkan gelombang yang menjalarinya dapat berupa gelombang mekanik seperti bunyi, getaran tali, dan riak permukaan air, atau gelombang eletromagnetik seperti gelombang radio, sinar IR dan UV.

      Pada saat gelombang merambat, medium yang dilewatinya akan mengalami getaran. Gelombang yang arah rambatannya tegak lurus terhadap arah getaran disebut sebagai gelombang transversal, sedangkan yang berarah sama dengan arah getarannya disebut sebagai gelombang longitudinal.

      Gelombang mekanik jika mengenai suatu medium akan mengalami perubahan arah atau penguraian, yakni kemungkinan gelombang akan dipantulkan dengan arah gelombang memenuhi hukum-hukum pemantulan, kemungkinan lain adalah gelombang akan diteruskan dan dibiaskan. Pembiasan tidak akan terjadi jika arah gelombang tegak lurus permukaan medium. Kecepatan gelombang, amplitudo dan panjang gelombangnya di dalam medium berbeda satu dengan yang lain tergantung sifat-sifat elastik medium yang dilewatinya, sehingga gelombang ultrasonik disebut juga sebagai gelombang elastik.

      Penelitian aplikasi Ultrasonik di Bidang Komposit-Polimer juga telah mulai banyak dilakukan, antaralain White, et al. (2002) melakukan percobaan untuk mengamati proses vulkanisasi senyawa DGEBA-DDS Epoksi dan komposit serat gelas dengan gelombang ultrasonik pada 1.85 MHz. Diperoleh informasi bahwa kecepatan gelombang longitudinal meningkat dengan kenaikkan suhu vulkanisasi. Kecepatan gelombang konstan pada pada saat polimer sudah berada pada kondisi termoset yang stabil. Penelitian serupa telah pula dicoba dilakukan oleh Doring dan Stark (1998) untuk resin Urea-Formaldehid, Melamin-Formaldehid, dan Epoksi.

      Selain untuk keperluan monitoring jalannya suatu proses, gelombang ultrasonikpun telah dicoba untuk keperluan sintesa. Levin, et al. (1996) melaporkan telah berhasil mensintesa unvulcanized rubber dengan cara devulkanisasi karet ban bekas, sedangkan Turkachinsky, et al. (1996) melakukan penelitian serupa namun untuk vulkanisat karet SBR pada 20 kHz sampai 50 kHz. Melalui proses devulkanisasi, ikatan-ikatan silang sulfur didegradasi, sehingga sebagian vulkanisat kembali ke kondisi sebelum tervulkanisasi. Ultrasonik juga dapat digunakan untuk mencari parameter elastik suatu bahan, seperti modulus Young, modulus geser, modulus bulk, dan perbandingan Poisson, antara lain telah dilakukan oleh Trombino (1998) untuk komposit tanah gambut, dengan menggunakan transduser 500 kHz, dan oleh Navarrete, et al. (1998) untuk campuran karet-silika pada 240 kHz.


    5. Deteksi Kontaminan Dengan Metode Kimia
    6. Gelombang Infra Red, salah satu ukuran panjang gelombangnya dikenal dengan nama FTIR. Cara kerja gelombang IR mirip dengan sinar X, hanya berbeda pada panjang gelombang dan amplitudo. FTIR dikenal sebagai teknik yang sering digunakan untuk mengamati jenis gugus fungsi molekul yang terkandung di dalam komposit, sehingga diharapkan bisa membedakan struktur molekul karet mentah dan kontaminan vulkanisat (Indian Rubber Institute. 1998).

      Kelebihan penggunaan metode NIR antara lain banyak komposisi kimia dari bahan pangan/pertanian yang menyerap (absorpsi) atau memantulkan (reflektan) cahaya pada rentang panjang gelombang 0.7-3 mm. Protein, air, asam, lemak, gula dan senyawa kimia lainnya memiliki pola serapan yang khas yang berbeda satu dengan lainnya pada setiap panjang gelombang cahaya. Perbedaan pola serapan tersebut terutama karena berbedanya geometri maupun jumlah atom yang terletak pada ikatan C-H, O-H, C-H-O atau N-H.

      Berdasarkan pertimbangan kemampuan metode NIR tersebut di atas, maka metode NIR berpotensi diaplikasikan untuk analisis komposis lateks maupun karet padat. Kemungkinan penyajian sampel ujinya harus cukup tipis agar pancaran gelombang elektromagnetiknya tidak banyak terserap oleh bahan.

      Jika karet telah mengalami vulkanisasi, maka akan terjadi perubahan struktul molekul. Namun perubahan tersebut tidak cukup bagi sinar infra-red untuk merubah pantulan gelombang elektromagnetiknya. Sehingga masih terdapat kemungkinan bahwa sinar IR belum dapat mendeteksi adanya kondungan kontaminan berupa vulkanisat di dalam bahan olah karet. Untuk memastikannya diperlukan percobaan laboratorium untuk menguji spektrum sinar IR yang melewati bahan olah karet yang bersih (kontrol) dan bahan olah karet yang terkontaminasi dengan vulkanisat.



    7. Deteksi Kontaminan Dengan Metode Kimia
    8. Teknik kimia gel-sulfur, merupakan teknik yang sederhana, sudah biasa digunakan untuk menganalisis kandungan bahan yang telah tervulkanisasi. Pada teknik ini dilakukan pelarutan sampel bokar dengan menggunakan solvent khusus. Selanjutnya diamati warna larutan, kekeruhan, dan ada tidaknya fraksi yang tidak terlarut.

      Jika di dalam bokar terkandung vulkanisat, maka kelak karet mentah akan larut sempurna, sedangkan vulkanisatnya akan menjadi gel yang tidak bisa larut, atau larutan menjadi keruh. Besarnya nilai gel content diharapkan menjadi petunjuk keberadaan kontaminan di dalam karet . Selain itu jika ditemukan bokar mengandung sulfur dalam jumlah tertentu, maka diindikasikan karet telah mengalami proses vulkanisasi (Gent, 1993).

      Deteksi kontaminan dengan menggunakan cara kimia bersifat sampling, sehingga di dalam prakteknya perlu dilakukan pengambilan contoh bokar cukup banyak agar hasil analisisnya kelak mampu mewakili keseluruhan bokar yang diterima oleh pabrik pengolahan crumb rubber.



    Penutup