Perkembangan Ekonomi Indonesia yang Stabil.
Saat yang Tepat Untuk Berinventasi.



Catatan Dari Investasi Pengusaha Taiwan Di Bidang Produksi Sepatu Di Jakarta.

Source: Taiwan Footwear News


Dalam beberapa tahun ini, akibat dari produksi sepatu dari negara RRC dan Vietnam mengalami masalah kuota dan antidumping di Negara Eropa dan Amerika Serikat, ditambah lagi dengan lingkungan investasi dalam industri penghasil sepatu di dua negara ini semakin memburuk menyebabkan banyak beberapa merek sepatu yang terkenal mengajukan agar pengusaha penghasil sepatu memindahkan pabrik ke Indonesia dan negara lainnya. Hal ini memacu banyak pabrik penghasil sepatu meningkatkan tingkat kemampuan produksi.

Demi membantu para anggota lebih memahami situasi investasi dan juga lebih mudah memindahkan basis produksi ke Indonesia, INDO Leather and Footwear Fair (ILF) mengadakan ¡§Pameran berbagai jenis produksi sepatu berkualitas Internasional, hasil kerajinan kulit, aksesoris dan teknologi produksi Indonesia¡¨tahun 2008 dan International Footwear Conference (IFC), suatu badan yang didirikan Bank Dunia, mengadakan konferensi Internasional pengusaha sepatu ke 27 yang diadakan di Jakarta. Taiwan mengutus tim inspeksi yang terdiri dari produsen sepatu, pengusaha sepatu, produsen penghasil bahan kulit dan produsen mesin sepatu untuk menghadiri acara ini.

Dalam kesempatan kali ini, saya, sebagai jurnalis bersama dengan Kepala Asosiasi Produsen Sepatu Taiwan Mr Lin Shao Jie, Ketua Pelaksana Mr Kong Fan Xun, meliput dan mewawancarai serangkaian isi acara forum yang terdiri dari :

  1. Konferensi Internasional Pengusaha Sepatu ke-27 IFC yang tahun ini diadakan oleh Asosiasi Produsen Sepatu Indonesia pada tanggal 12-13 Agustus 2008 di Jakarta.
  2. Pameran tentang berbagai jenis produksi sepatu berkualitas Internasional , kerajinan kulit, aksesoris dan teknologi produksi Indonesia¡¨tahun 2008 oleh ILF pada tanggal 12-15 Agustus 2008.
  3. Seminar mengenai pengalaman investasi dari investor Taiwan di bidang sepatu yang diadakan di Surabaya dan Jakarta serta mengunjungi beberapa pabrik sepatu di Indonesia pada tanggal 13-18 Agustus 2008.


Melalui berbagai pengalaman investasi investor Taiwan di Indonesia, konferensi mengenai analisis keadaan investasi di Asia, serta opini dari pengusaha Taiwan di Indonesia sekarang, kami yakin dengan waktu sesingkat dan sepadat ini , tim inspeksi dari Taiwan makin memahami lingkungan investasi di bidang industri sepatu di Indonesia.

Jakarta-Forum Investasi Dan Perdagangan Sektor Industri Sepatu.

Liputan Pertama adalah seminar mengenai Forum Investasi dan Perdagangan Industri Sepatu di Indonesia yang diadakan bersama sama oleh Asosiasi Industri Sepatu Taiwan, Taiwan Business Club Jakarta, dan Taiwan Trade Center Jakarta pada tanggal 14 dan 15 Agustus 2008 di Hotel Sultan, Room Asean di Jakarta dan Hotel Shangrila di Surabaya.
Sekitar 60 peserta menghadiri seminar kali ini, Tamu kehormatan yang hadir adalah :

  1. Kepala Asosiasi Sepatu Taiwan Mr. Jack Lin dan C.E.O. Mr. Frank Z Kung,
  2. Direktur Divisi Ekonomi, TETO Jakarta Mr. Chen, Bennet Wen-Bin,
  3. Kepala Taiwan Business Club Jakarta Mr. Yang Zhen Ming, Sekretaris Umum Mr. Frank Chiang C.C. dan Penasehat Mr. Hu Li Wu,
  4. Kepala Taiwan Trade Center Jakarta Mr. James Chen
  5. Manajer Utama Bank Chinatrust Jakarta, Mr. Liu Jing Zhong,
  6. Manajer Utama PT. Tongya Collins Terminal Mr. Dai Zi Qiang.


Bersamaan itu, anggota yang hadir dalam tim inspeksi kali ini adalah :

  1. Perusahaan Sepatu Xiang Xin Bao, Mr. Wu Gao Xiong dan Mr. Chai Cheng You,
  2. Zucca Corp Mr. Jiang Ren Bing,
  3. Perusahaan Sheng Rong Mr. Wu Zhen Xian,
  4. Perusahaan Li Yi Mr. Luo Cui Rong
  5. Perusahaan He Min Ms. Wang Min Ling,
  6. Wakil Perusahaan Gan Fu Mr. Lu Zhi Jian
  7. Perusahaan Xiang Da Machinery Ms. Chen Chiu Zhen
  8. Wakil Perusahaan Yi Hong Mr. Li Chi Ti,
  9. Sales Manajer Perusahaan Kulit Ms. Li Phei Yi,
  10. Perusahaan Run Ze Trade Mr. Hong Zhi Wei,
  11. Perusahaan Hong Qi Machinery Ms. Chen Wan Yu
  12. Sales Manajer Perusahaan Qi Xiang (Shang Hai) Mr. Yao Bing Huang,
  13. Far Eastern Group Mr. Chen Xin Zhu,
  14. Manajer Perusahaan Long Jun Mr. Ji Ming Ru
  15. Wakil dari Perusahaan Indonesia,
    1. Manajer PT. Obor Mr. Chen Xiao Long
    2. PT. Intrapenta Mr. Tonney Chen, dsb


Sebelumnya, Kepala Asosiasi Sepatu Taiwan Mr Lin Shao Jie dalam pidato pembukaan menyatakan ¡§ Semua yang pernah menjadi pimpinan puncak di Indonesia memahami bahwa perkembangan industri sepatu di Indonesia tidak sepesat perkembangan di RRC dan Vietnam, namun dengan adanya dampak dari perubahan UU Perjanjian Tenaga Kerja di RRC, pemerintah Indonesia kini mulai antusias untuk menarik investor Taiwan datang ke Indonesia, bahkan Tim Perdagangan Investasi Indonesia mengundang seorang spesialis ttg China untuk membantu investor Taiwan mengurus hal yang berkaitan dengan investasi Indonesia.¡¨

Untuk Menghindari Penipuan Investasi, Mintalah Bantuan Dari Taiwan Business Club.

Mr. Yang Zheng Ming , Kepala Asosiasi Taiwan Business Jakarta, saaat menjelaskan tentang perkembangan ekonomi Indonesia sekarang menyatakan bahwa jumlah penduduk Indonesia lebih dari 200 juta penduduk , dengan lebih dari 40% jumlah penduduk Indonesia terkonsentrasi di Pulau Jawa. Kepadatan populasinya lebih padat dari Taiwan. Akibat dari banyak penduduk Indonesia yang masih dalam pengangguran, Indonesia sangat memerlukan injeksi dari investor asing sehingga mampu meningkatkan tingkat pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Dibandingkan dengan negara Malaysia, Warga Negara Indonesia sangat menghormati investor Taiwan. Pemikiran Warga Indonesia lebih optimis.Dalam pemikiran mereka asalkan dapat mencari nafkah sudah cukup, karena itulah kehidupan warga Indonesia kebanyakan lebih bersifat pasif.

Mengenai hal investasi, Mr Yang mengingatkan bahwa untuk mendirikan satu pabrik di Indonesia memerlukan biaya yang cukup besar, oleh sebab itu harus direncanakan secara matang. Selain itu, walaupun potensi tingkat nilai harga tanah bagus, namun Pemerintah Indonesia tidak mengizinkan Warga Negara Asing untuk membeli tanah diluar daerah industri. WNA harus menggunakan identitas warga Indonesia jika ingin memperjualbelikan tanah. Untungnya, tingkat kebebasan devisa lebih tinggi dibanding Taiwan, sehingga investor Taiwan dapat mempertimbangkan apakah pendirian pabrik di Indonesia cocok dengan kebutuhan perusahaan sendiri. Mr Yang juga mengusulkan untuk mengurangi resiko tertipu dalam pendirian pabrik di Indonesia, investor dapat meminta bantuan melalui kantor perwakilan Taiwan Business Club di setiap daerah.

Perkembangan Ekonomi yang Stabil , Saat yang Tepat untuk Berinvestasi.

Mr Chen, Bennet Wen-Bin, Direktur Divisi Ekonomi TETO Jakarta menerangkan bahwa banyak kelebihan yang didapat dari berinvestasi di Indonesia. Dia menerangkan setelah negara BRIC (Brasil, Rusia, India dan China), Majalah Jepang yang berjudul Ekonom menunjuk 5 negara VISTA diantaranya Vietnam, Indonesia, Afrika Selatan, Turki dan Argentina sebagai sekelompok negara baru yang akan memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat di masa datang. Salah satu diantaranya Indonesia memenuhi syarat sebagai negara berkembang, karena :

  1. Kaya akan Tenaga Kerja, dengan populasinya kebanyakan adalah orang muda.
  2. Kaya akan potensi sumber daya alam,
  3. Status politik Indonesia yang stabil,
  4. Tingkat konsumerisasi warga tingkat menengah makin meningkat.


Dengan adanya syarat diatas, Mr Chen berpendapat bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang stabil di Asia Tenggara. Walaupun Indonesia akan mulai mengalami resiko inflasi (tingkat inflasi 11%), namun Indonesia masih memiliki devisa negara yang tinggi yakni enam juta US Dolar, Dengan situasi politik yang stabil, hal ini merupakan saat yang tepat bagi investor untuk berinvestasi di Indonesia.

Mr Chen mengingatkan bahwa dalam berinvestasi, Investor Taiwan harus memperhatikan beberapa hal, yakni :

  1. Indonesia menggunakan sistem otonomi daerah, sehingga hukum setiap daerah berbeda.
  2. Administrasi yang tidak efektif
  3. Prasarana pelabuhan laut dan udara disebagian daerah yang tidak memadai, bahkan ada beberapa daerah yang mudah mengalami putus listrik.


Hal diatas merupakan kekurangan yang harus dipecahkan oleh pemerintah Indonesia satu per satu.

Respons Terhadap Pesanan Di Musim Ramai Dan Sepi Dapat Mengaplikasikan Sistem Kontrak Tenaga Kerja

Mr James K. J. Chen, Ketua Taiwan Trade Center, Jakarta, membandingkan negara Vietnam dan Indonesia dalam hal investasi. Mr Chen menerangkan bahwa akibat dari investasi asing mengalir deras ke Vietnam, gaji pokok buruh di negara ini terus menerus meningkat menyebabkan terjadinya kelangkaan karyawan, ditambah lagi dengan tingkat inflasi dan harga barang yang terus meningkat mengakibatkan keadaan semakin memburuk. Selain itu, kesadaran buruh semakin tinggi menyebabkan sering munculnya mogok kerja. Hal ini membuat investor asing pusing tujuh keliling. Dibandingkan dengan situasi di Vietnam, keadaan Indonesia lebih menguntungkan dibandingkan Vietnam.

Jika membandingkan antara investasi di RRC, Vietnam dan Indonesia, Kebijakan RRC dari ¡§Menarik investor dan investasi¡¨ yang kemudian dirubah menjadi ¡§menarik investor, menyeleksi investasi¡¨ hanyalah kebohongan belaka. Keadaan ini kemungkinan adalah sebuah lingkaran setan. Saat perusahaan dalam keadaan menguntungkan, perusahaan berusaha memperluas ekspansi pabrik; Saat perusahaan terus menerus mengekspansi pabrik, perusahaan menurunkan harga jual per item dengan harapan mendapat pesanan yang lebih besar, jika hasil produksi tidak terjual, perusahaan mau tidak mau harus menurunkan harga dengan harapan dapat meningkatkan kas perusahaan. Siklus seperti ini bukanlah hal yang bagus terhadap kelangsungan perusahaan terutama pada saat ini RRC sedang mengalami ¡§6 kelangkaan utama¡¨ yakni, langka akan tenaga kerja, prasarana air-listrik, sumber daya manusia tingkat menengah dan atas, bahan baku dan tanah. Oleh karena itu, dia mengusulkan bahwa investor Taiwan dapat mempertimbangkan untuk menanamkan modal di Indonesia.

Mr Chen menganalisis bahwa untuk pabrik yang memerlukan tenaga kerja yang tinggi seperti pabrik sepatu, tingkat populasi tenaga kerja Indonesia lebih tinggi daripada populasi dependen. Untuk saat ini, banyak perusahaan tradisional yang mempergunakan sistem kontrak tenaga kerja, tenaga kerja dikontrak per tahun dan direvisi berdasarkan keadaan perusahaan apakah dalam keadaan musim ramai atau sepi.

Mr Hu Menganalisis Tentang Perkembangan Industri Sepatu Di Indonesia Untuk 10 Tahun Mendatang.

Mr Hu Li Wu, Konsultan Taiwan Business Club Jakarta berbagi pengalaman investasinya dalam industri sepatu di Indonesia. Saat ini, Mr Hu merupakan pendiri PT. Trade Midas Indonesia di Jakarta. Dia dengan rendah hat menerangkan bahwa pada tahun 1989, Mr Hu mengikuti kebijakan pemerintah Taiwan untuk berinvestasi ke bagian Selatan, dia pun mendirikan perusahaan dagang sepatu dan perbaikan komputer di Indonesia. Tahun 1990-1996 merupakan puncak perkembangan dari industri sepatu di Indonesia.Pemasaran domestik tahun 1992 mencapai 2 juta lebih pasang, pemasaran luar mencapai 1 juta pasang sepatu. Tahun 1998 merupakan saat terburuk untuk industri sepatu di Indonesia. Untunglah pada tahun 2000, Pemerintahan Indonesia yang baru mulai berusaha secara antusias untuk menarik investor asing ke Indonesia, kemudian pada tahun 2003-2007, Perkembangan industri sepatu menjadi stabil, mogok kerja juga jarang terjadi, pertumbuhan sosial ekonomi semakin membaik, contohnya : Indonesia setiap tahunnya menambah produksi 3 juta sepeda motor kini. Hal ini menunjukan bahwa tingkat pengeluaran masyarakat Indonesia semakin meningkat sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Mengenai masalah yang sering dihadapi investor Taiwan di Indonesia, Mr Hu menerangkan bahwa banyak investor Taiwan yang membeli pabrik lama, dan sering melupakan untuk mengecek apakah hak milik pabrik tersebut bermasalah? Apakah pabrik dalam keadaan berhutang? Hal ini seharusnya dimengerti terlebih dahulu untuk menghindari timbulnya masalah di kemudian hari. Karena budaya dan cara hidup Indonesia dan Taiwan sangatlah berbeda, dalam mengatur karyawan haruslah didasari dengan sistem ¡§manajemen kemanusiaan¡¨. Untuk masalah perpajakan, juga harus diselesaikan berdasarkan pemikiran yang harmonis. Pengeluaran harus dikeluarkan pada tempat yang benar dan seharusnya.

Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Kontrak Tenaga Kerja

Sekretaris Umum Taiwan Business Club Jakarta, Mr Frank Chiang C.C. menjelaskan isi dari Kontrak Tenaga Kerja. Dia menerangkan bahwa Indonesia kaya akan sumber tenaga kerja. Setiap tahunnya lebih dari satu juta tenaga kerja diekspor ke Luar Negeri, oleh karena itu Indonesia tidak akan mengalami masalah kekurangan tenaga kerja. Sebelum perusahaan mulai beroperasi, Ia menyarankan harus mengadakan ¡§pelatihan tenaga kerja¡¨terlebih dahulu, sehingga karyawan dapat mengerti dan masuk dalam lingkungan kerja. Saat ini, Perusahaan Indonesia yang menggunakan sistem kontrak tenaga kerja, menggunakan sistem kontrak per tiga bulan atau enam bulan, kemudian dapat diperpanjang menjadi satu tahun bahkan dua tahun. Berdasarkan Undang Undang ketenagakerjaan Indonesia tahun 2008 hal 81, bab 91 dan bab 20 mengenai ¡§kewajiban tenaga kerja¡¨ menyebutkan bahwa Jika karyawan melakukan sembilan kesalahan yang disebutkan dalam pasal ini, perusahaan dapat langsung memecat karyawan dan karyawan langsung kehilangan hak No.13/2003.

Mr Chiang menerangkan bahwa Indonesia saat ini memiliki lebih dari 1,000 Asosiasi. Walaupun terdapat banyak asosiasi, namun pada dasarnya tugas asosiasi adalah membantu perusahaan memperkenalkan tenaga kerja. Investor Taiwan juga dapat menggunakan asosiasi perantara untuk mencari karyawan, tetapi yang harus diperhatikan adalah karyawan utama perusahaan sebaiknya jangan didapat melalu perantara, apalagi manajer perusahaan haruslah mampu beradaptasi dengan budaya Indonesia dan belajar Bahasa Indonesia karena kadang kadang sering terjadi kesalahpahaman akibat dari salahnya penerjemahan, sehingga disarankan sebaiknya mampu berbahasa Indonesia. Selain itu, hal yang harus diperhatikan adalah penggunaan tenaga listrik, jika melampaui batas, biaya kelebihan sangatlah mahal.

Mr Dai Zi Qiang, Manajer Utama PT Tongya Collins Terminal menambahkan bahwa, karena biaya penggunaan kelebihan listrik sangatlah tinggi, jadi kami sering menyarankan agar karyawan bekerja pada hari Sabtu dan Minggu dimana penggunaan sumber daya listril tidak dalam keadaan padat.( Perusahaan menyesuaikan waktu kerja menjadi kerja di hari Minggu, tetapi tidak termasuk lembur), hal ini dapat membantu mengurangi penggunaan sumber daya disetiap daerah. Akhirnya, Mr Dai mengusulkan bahwa investor Taiwan harus ke BKPM jika berencana untuk investasi di Indonesia, kemudian memberikan daftar mesin yang akan diimpor dan sebaiknya mesin tersebut adalah mesin baru. Pengeksporan barang sebaiknya Satu Bill Of Lading/ Container. Jika pabrik didirikan dalam daerah pengeksporan maka dapat menjadi kawasan berikat, jika didirikan diluar dan ingin menjadi kawasan berikat harus mendaftar terlebih dahulu dengan syarat kuantitas ekspor harus memenuhi standar.

Pada akhirnya, kedua belah pihak mengakhiri seminar kali ini dalam suasana yang bahagia dan melanjutkan makan malam bersama di Hotel Sultan,Jakarta.